Sajak Adalah Freethinker Indonesia

Sosial dan Spiritual

Humanisme seharusnya menjadi perayaan bersama. 
Baik mereka yang relijius ataupun non believer 
idealnya saling memanusiakan manusia.

Yang menjadi problem adalah keberagaman caranya 
seringkali direcoki oleh takhayul yang disakralkan.

Ada yang bisa tetap memanusiakan manusia 
tanpa harus terikat ras, suku, agama, dll.

Ada juga yang memanusiakan manusia dengan syarat 
harus seiman dan seagama sesuai dogma di kitabnya.

Oleh karena itu, 
untuk merayakan humanisme 
bisa dibidani dulu lewat sekularisme.

Supaya kegiatan yang bersifat spiritual dan takhayul 
tetap berada di ranah personal masing-masing 
dan tidak perlu menjadi noise bagi 
kegiatan bersosial lainnya.

– Bayu Angora