Freethinker Adalah Puisi Sajak

Perban

ketika aku masih kecil 
lututku sobek sepedaku bengkok 
gara-gara aku menabrak tembok 
dan terjatuh ke selokan besar

tak ada seorang pun 
yang menolongku pada waktu itu

setibanya di rumah ayah dan ibu 
telah menungguku di depan pintu

“dari mana saja kamu? 
jam segini baru pulang!” 
ibu melotot

“kenapa sepedamu? kebut-kebutan lagi? 
mau jadi jagoan!” 
ayah pun melotot

“lutut berdarah! kalau sudah begini, 
orangtua juga kan yang repot!” 
suara ibu meninggi

“sepeda baru saja dibelikan malah dirusak! 
dikiranya cari uang itu gampang apa!” 
suara ayah tak kalah tinggi

“sudah, mandi sana! sudah kotor, 
bau comberan lagi! dasar anak bandel!” 
sambung ibu

“sepeda rusaknya simpan saja di gudang! 
dasar anak bandel! susah diatur!” 
sambung ayah lagi

ayah, ibu, 
sekarang si anak bandel sudah besar 
dan sudah punya bulldozer sendiri 
yang anti jatuh dan anti rusak!

dengan bulldozer baruku ini, 
aku ingin membawa pulang sepeda kesayanganku 
yang masih tertimbun di gudang rumah kalian!

sekalian aku juga ingin mencari, 
apakah di rumah kalian masih tersisa perban 
untuk sekadar menutupi luka di lutut mungilku ini?!

Bayu Angora | 2011