Paradigma Seni

Paradigma Seni

Value pada seni itu bersifat dinamis
dan tidak bisa lepas dari konsensus.

Ketika publik menyepakati
bahwa lukisan abstrak itu high art,
maka value lukisan tersebut akan ikut naik.

Masalahnya, konsensus itu seringkali
disetir oleh kepentingan industri
demi urusan bisnis dan gengsi.

Sama seperti halnya ketika publik
menganggap cantik itu harus putih
hanya karena industri kecantikan
dan kosmetik mendoktrin demikian.

Dikotomi antara high art / low art
yang hanya diukur dari faktor ekonomi
hanya akan menghasilkan indoktrinasi seni.

Karena pada realitasnya,
goresan vandal di tembok kumuh
justru seringkali lebih menggetarkan
daripada karya seni mahal di gallery megah.

Hingga pada akhirnya,
value paling hakiki dari seni
bukan lagi sekadar memanjakan indera,
tapi lebih jauh dari itu adalah memperluas
paradigma umat manusia dalam memandang realitas.

– Bayu Angora