Penyair Blog Freethinker Indonesia

Paradigma Seni

Value pada seni itu bersifat dinamis 
dan tidak bisa lepas dari konsensus.

Ketika publik menyepakati 
bahwa lukisan abstrak itu high art, 
maka value lukisan tersebut akan ikut naik.

Masalahnya, konsensus itu seringkali 
disetir oleh kepentingan industri 
demi urusan bisnis dan gengsi.

Sama seperti halnya ketika publik 
menganggap cantik itu harus putih 
hanya karena industri kecantikan 
dan kosmetik mendoktrin demikian.

Dikotomi antara high art / low art 
yang hanya diukur dari faktor ekonomi 
hanya akan menghasilkan indoktrinasi seni.

Karena pada realitasnya, 
goresan vandal di tembok kumuh 
justru seringkali lebih menggetarkan 
daripada karya seni mahal di gallery megah.

Hingga pada akhirnya, 
value paling hakiki dari seni 
bukan lagi sekadar memanjakan indera, 
tapi lebih jauh dari itu adalah memperluas 
paradigma umat manusia dalam memandang realitas.

– Bayu Angora