Sajak Penyair Freethinker Indonesia

Pantat Malaikat

padat bulat hangat 
dan begitu memikat

“ini pasti nikmat!”

lalu kami berempat 
membaginya menjadi 
delapan potong persis 
seperti pizza hangat

“untuk maut yang mati!”

dan kami pun bersulang 
sambil menyantap lahap 
hangat pantat ini tanpa 
berdoa terlebih dahulu

sementara di dapur sana 
izrail terkapar sekarat

Bayu Angora | 2014