Puisi Penyair Freethinker Indonesia

Malin Kondom

Orangtua:
Karena kami adalah orangtua kamu,
dan kamu adalah anak kami,
maka kamu harus patuh kepada kami.

Malin:
Kenapa harus seperti itu?

Orangtua:
Karena kami telah melahirkan dan membesarkanmu,
maka kamu harus menuruti apapun yang kami perintahkan.
Sekarang giliran kamu balas jasa dengan membahagiakan kami.

Malin:
Orangtua yang enak ngewe, kenapa anak yang kena getahnya?

Orangtua:
Dasar kamu anak durhaka! Kami akan mengutukmu!

Seketika itu Malin pun dikutuk oleh orangtuanya.
Bukan dikutuk menjadi batu, tapi menjadi kondom.

Sejak itulah kondom menjadi simbol penolak kutukan.

Karena apa yang tertampung di kondom akhirnya tidak perlu
mengalami kutukan seperti yang dialami Malin, si anak durhaka.

– Bayu Angora