blog puisi freethinker indonesia

Sembahyang

banyak sembahyang terus diulang
sementara perut semakin kejang

lambungku pun mendesak lidah
untuk segera mengucap amin
dengan lantang dan nyaring

ketika sembahyang kian menepi
aku bergegas menuju hidangan
untuk menuntaskan rasa syukur

betapa nikmatnya sembahyang
walau tak senikmat nasi tumpeng

Bayu Angora | 2010

 

= Related Posts

Merdeka Pancaroba pertiwi gila tanpa busana menangis riang di tengah kotabulu-bulu auratnya hangus digerayangi lidah matahari payudaranya kopong tandus diej...
Gunting Kuku bayangan memadat di tangan kian memanjang kian membayang menjadi kurban menjadi kenangansatu kuku terakhir : kelingkingjangan dipotong! ...
Oleh-oleh dari Surga setiap kali aku mengingat buah merah yang lezat itu sisa bijinya terasa perih menggerogoti urat leherkuterus berkembang biak menjelma poho...
Getah yang Bersarang di Jantungku jangankan apa berapa dan bagaimana wajahku sendiri pun aku hampir lupa getah yang mondar-mandir di kepala kian buas mengikis rasa dan logika...