penyair sajak freethinker indonesia

Malin Kondom

Orangtua:
Karena kami adalah orangtua kamu,
dan kamu adalah anak kami,
maka kamu harus patuh kepada kami.

Malin:
Kenapa harus seperti itu?

Orangtua:
Karena kami telah melahirkan dan membesarkanmu,
maka kamu harus menuruti apapun yang kami perintahkan.
Sekarang giliran kamu balas jasa dengan membahagiakan kami.

Malin:
Orangtua yang enak ngewe, kenapa anak yang kena getahnya?

Orangtua:
Dasar kamu anak durhaka! Kami akan mengutukmu!

Seketika itu Malin pun dikutuk oleh orangtuanya.
Bukan dikutuk menjadi batu, tapi menjadi kondom.

Sejak itulah kondom menjadi simbol penolak kutukan.

Karena apa yang tertampung di kondom akhirnya tidak perlu
mengalami kutukan seperti yang dialami Malin, si anak durhaka.

– Bayu Angora

 

= Related Posts

Cangcut Superman Cangcut adalah hal privat. Ketika cangcut tersebut dipamerkan ke publik seperti yang dilakukan oleh Superman, maka risiko jika hal tersebut ...
Safety First Di tengah masyarakat yang cenderung humanis, orang berpakaian terbuka bisa lebih dimanusiakan.Tapi di tengah masyarakat yang cenderung bar...
Tuhan Personal Istilah tuhan menjadi rancu karena multitafsir.Tuhan personal versi teis itu cenderung ke objek. Suatu sosok beridentitas yang maha ini ma...
Level Kejahatan Kejahatan level bawah melanggar hukum. Kejahatan level menengah memanipulasi hukum. Kejahatan level atas menciptakan hukumnya sendiri.Penj...