penyair adalah freethinker indonesia

Istana Kecoa

dari kampanye turun ke hati
dan kecoa pun memimpin kami

jangankan jadi pemimpin kami
pikiranmu pun masih harus dibenahi
jangankan menangani negeri sebesar ini
hasrat kerdilmu pun masih perlu direnovasi

kami tahu kau punya ambisi
kami pun tahu kau punya anak famili
tapi memaksamu untuk mengundurkan diri
sama seperti halnya mengusir kecoa dengan kaki

kau bukannya pergi tapi malah semakin mendekat
dan terus merayap hingga masuk ke lubang pantat

Bayu Angora | 2012

 

= Related Posts

Merdeka Pancaroba pertiwi gila tanpa busana menangis riang di tengah kotabulu-bulu auratnya hangus digerayangi lidah matahari payudaranya kopong tandus diej...
Sepuh yang dulu riuh kini mengaduhmungkin gelisah belum juga pecahmenanti sisa waktu lumpuh ditikam bisuBayu Angora | 2015 
Debu Bintang senyumnya yang indah itu tidak lebih dari sekumpulan debu bintang yang suatu hari akan lenyap disapu waktuBayu Angora | 2015 
Sajak Jelek jika sajakmu terasa jelek cobalah baca sambil bercermin niscaya jeleknya akan pindah ke dirimuBayu Angora | 2009